Rabu, 04 Februari 2015

PENDIDIKAN 2015

Mencari Rasa Adil di ENAS

"Saat ini sedang dicari cara agar siswa memiliki standar yang baik dan memadai, tapi pada sisi lain pelaksanaan ujian tersebut bukan proses yang menakutkan, membebani dan mengubah orientasi belajar". (Anies Baswedan. Dalam Kompas 21/12/2014).

GENERASI EMAS: Calon Anak Bangsa
Format Ujian Nasional (UN) telah berganti menjadi Evaluasi Nasional (ENAS), komposisi terbaru Prosentase kelulusan yang semula 60 nilai UN : 40 nilai Ujian Sekolah dalam UN, kini menjadi 50 : 50 dalam ENAS. Salah satu alasannya adalah sekolah lebih memiliki kewenangan yang lebih ataspenentuan kelulusan siswa, Karena guru-guru di sekolah dianggap yang paling mengetahui atas kelayakan lulus atau tidaknya sang pembelajar.

Apakah ini merupakan semangat atas penyampaian visi-misi Presiden Jokowi saat kampanye, yang berjanji menghapus Ujian Nasional. Kalau memang didasari sebuah janji kampanye? Layak kita apresiasi ini merupakan penghalusan dari sebuah janji dalam visi misi pendidikan Jokowi-JK. Terungkap fungsi dalam Evaluasi Nasional salah satunya adalah diarahkan sebagai alat pemetaan kualitas pendidikan di Indonesia. Artinya dari Evaluasi Nasional nanti akan diketahui peta pendidikan secaraa riil di tiap daerah. Dengan demikian Mendikbud akan menentukan langkah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di tahun berikutnya.

Rabu, 17 Desember 2014

KURIKULUM 2013 VS KTSP

Mau Ikut Yang Mana?


Selamatkan TIK
Mau ikut yang mana? Pertanyaan ini patut di jawab atau tidak? Mengapa muncul pertanyaan ini? Pagi ini di sekolah seperti biasanya kesibukan selalu ada-ada saja. Saat lewat di depan ruang Tata Usaha, Kepala TU menunjukkan draft surat permohonan untuk menjalankan Kurikulum 2013. Sejenak aku merasa sedikit kecewa juga, permasalahannya selama ada sertifikasi guru sejak 2006, aku sudah tidak lagi "diperkenankan" mengajar IPS karena secara logika mata pelajaran IPS sudah berlebihan dan artinya kelebihan seorang guru, sehingga dengan lapang dada aku mengajar TIK hingga saat blog ini di tulis.

Kabar gembira dan sedikit harapan muncul ketika Bapak Anis Baswedan menyarankan sekolah yang menjalankan K13 selama 3 semester saja yang dapat mempergunakan K13. sedangkan sisanya mempergunakan KTSP. Ternyata? Untuk Propinsi Jawa Timur, adalah salah satu propinsi yang menghendaki sekolah tetap menggunakan K13, perkiraanku pernyataan inilah yang menjadi dasar agar K13 diberlakukan oleh seluruh sekolah di Propinsi Jawa Timur. Sedikit terlalu "berani" dan permintaan "maaf" bagi semua pembaca blog ini, pemaksaan penggunaan K13 bagi sekolah yang menjalankan K13 hanya "satu semester" merupakan pemaksaan kehendak.

Minimnya fasilitas yang ada dan kesiapan guru merupakan permasalahan yang sangat serius, belum lagi bentuk penilaian yang dirasa memberatkan. Jujur diakui penilaian K13 sudah bagus. Ukuran penilaian K13 jika dilakukan di sekolah dasar sangatlah baik, mengingat di sekolah dasar menganut sistem pengajaran guru kelas sehingga penilaiannya sangat mungkin baik. Namun ada rasa bingung ketika penilaian K13 di tingkat sekolah menengah, karena guru di tingkat sekolah menengah adalah guru bidang studi, bayangkan berapa anak yang harus dinilai aspek religinya, sikap, ilmu pengetahuan dan keterampilannya.

Bukan karena saya termasuk guru yang tersingkirkan di K13 lalu tidak setuju, sesungguhnya ada yang lebih bijak dan merupakan kesempatan emas jika pemegang keputusan memberikan "otonomi kurikulum" pada sekolah dengan seluas-luasnya tanpa "pemaksaan, tekanan" dengan memilih atau pun menjalankan dengan baik opsi Bapak Anis Baswedan. Haruslah sepatutnya jika "Tut Wuri Handayani" juga bisa tegak di tingkat birokrasi kita, masalah kurikulum jangan dijadikan dewa. Ini kesempatan emas untuk mencari jati diri pendidikan bila sekolah memang siap secara mental, fisik, sarana prasarana dan sumber dayanya tentunya tidak masalah memilih K13 dan bukannya memaksakan kehendak dengan mengajukan surat permohonan menjalankan K13.

Selasa, 09 September 2014

KURIKULUM 2013 (BARU)

Merubah Mindset Guru
oleh: Ahmad Amin Udin, S.Pd, S.ST

Mas Rizqi belajar di luar kelas
Perjalanan Kurikulum 2013 telah menapaki tahun ke dua di tahun 2014 ini, perjalanan yang masih bisa di kata terlalu dini untuk dikatakan bahwa Kurikulum 2013 kurang berhasil. Berhasil atau tidak karena siswa yang murni selama duduk di bangku kelas pertama sampai akhir belum tampak hasil kelulusannya. Dalam setiap diskusi dengan teman sesama guru, kebanyakan meragukan akan output siswa yang menjalani Kurikulum 2013 mengingat banyak guru yang masih mengeluh dengan pola pengajaran dan juga tentang Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasarnya (KD).

Pelatihan yang didapati oleh seorang guru masih sekitar bagaimana menyusun RPP yang sesuai dengan Kurikulum 2013, meskipun dalam pelatihan ada juga yang diwajibkan untuk tampil mengajar seolah-olah mempergunakan gaya mengajar Kurikulum 2013 dengan metode mengajar diskusi. Kesan dari kegiatan dengan metode diskusi masih terlihat dipaksakan pasalnya ketika di kelas sangat jarang seorang guru mempergunakan metode diskusi ini. Padahal diskusi sejak diberlakukannya Kurikulum berbasis Kompetensi hingga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sudah sering di gembar gemborkan, namun kondisi di lapangan sangat berbeda.

Apa yang perlu di rubah dengan lahirnya Kurikulum 2013? Salah satunya adalah merubah mindset guru dalam gaya mengajar. Selama ini variasi mengajar seorang guru masih terlihat kaku dan terkungkung dengan metode ceramah, alasannya ada kekhawatiran tidak tercapainya materi yang telah diajarkan hal ini disebabkan fokus seorang guru adalah sukses mengantar siswa dengan meraih nilai baik dalam Ujian Nasional.


Kalau mindset guru dalam mengajar tidak berubah, maka proses pembelajaran tidak akan tercapai dimana 1) standar proses yang semula pada eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi harus dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menyajikan, menyimpulkan dan menyita. 2) belajar tidak hanya di dalam kelas tetapi juga di luar lingkungan sekolah. 3) guru bukan satu-satunya sumber belajar. 4) sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan.

Kamis, 06 Februari 2014

KURIKULUM TIK 2013

Mengambil Satu Keputusan
di Kurikulum 2013

Sebuah renungan untuk menggapai sebuah kepastian yang memang diciptakan hanya untuk menciptakan satu keputusan. Adalah guru TIK yang saat ini harus memilih sebuah ketidak pastian itu.

Harga Sebuah Pengabdian Guru TIK
Menunggu lama kepastian berlakunya kurikulum 2013 yang tidak memberi kesempatan bagi guru TIK untuk dapat mengajar siswanya haruslah ditanggapi serius. Satu tahun berselang tanda-tanda pemerintah mengupayakan guru TIK atau pun guru yang tidak atau kurang jam mengajarnya ternyata sama sekali tidak menemui titik terang. Banyak guru yang mengalami nasib seperti ini saling bertanya, mencari info barangkali ada kabar gembira tentang guru yang merasa terpinggirkan di Kurikulum 2013.

Selama ini di tingkat satuan pendidikan tingkat pertama guru TIK yang paling banyak mengalami kebingungan, adapun di tingkat satuan pendidikan tingkat atas dan kejuruhan guru yang kekurangan jam sangatlah banyak diantaranya guru Bahasa Inggris, Matematika, Kimia, TIK.

Bagaimana menyikapi? Seperti kita ketahui bersama ada beberapa opsi dari mulut ke mulut dan saat ini saya memilih opsi melakukan re-sertifikasi sesuai basic. Beruntung saya PNS, opsi ini merupakan opsi yang saya nilai paling jitu walaupun sekiranya saya melakukan re-sertifikasi mungkin masih harus menunggu 3-4 tahun senior sekolah di sekolahku pensiun baru saya bisa dapat 24 jam mengajar.

Yang susah teman senasib yang saat ini masih jadi guru tidak tetap (GTT), kemarin saya tanya memilih opsi berhenti mengajar. Saya tanya lagi mengapa harus berhenti mengajar? Jawabannya kalau memang K2 kali ini tidak lulus saya harus pindah ke kota lain yang secara kebetulan rumah saat ini yang ditempati lagi ditawar orang. Nah jika K2 tidak lulus dan rumah bisa terjual, maka si teman tadi nekat untuk pergi ke luar kota dan membuka usaha di kota tersebut.

Senin, 11 November 2013

BELAJAR PRAKARYA

IKUT PRAKARYA KARENA
KURIKULUM 2013

Mengajar PRAKARYA: Langkah baru menuju sukses.
Jumat, 8 November 2013 merupakan hari pertama cek in di Hotel Rejeki Sarangan untuk mengikuti kegiatan pelatihan Kurikulum 2013 untuk guru prakarya hingga tanggal 12 Nopember 2013. Berangkat dari guru TIK yang sama sekali belum paham dan mungkin juga salah satu guru menentang digantikannya TIK menjadi Prakarya. Sama dengan guru TIK atau pun guru lainnya yang harus mengampu prakarya perasaan "galau" sebuah istilah yang sering muncul saat diskusi seakan-akan menjadi lagu yang selalu muncul. Namun lambat laun pikiran seperti itu ternyata mulai terkikis seiring dengan mulai munculnya gambaran tentang prakarya.

Dalam kesempatan pelatihan ini, ternyata ada 4 (empat) aspek dalam mata pelajaran Prakarya, yaitu aspek keterampilan, budidaya, pengolahan dan rekayasa. Yang menarik dari empat aspek tersebut adalah rekayasa, mengapa rekayasa? Karena banyak dari guru TIK menganggap rekayasa dapat menggantikan atau digunakan menyamarkan TIK untuk tetap diajarkan/disisipkan dalam prakarya. Dan ternyata dari silabus yang saya terima ternyata sama sekali prakarya tidak menyinggung masalah TIK.

Semangat untuk mengampu mata pelajaran rekayasa ternyata ditunjukkan dengan semangat mengikuti pelatihan yang ditunjukkan dengan semakin hebatnya teman pelatihan ketika melakukan peer teaching. Dalam kegiatan ini banyak variasi cara mengajar dari teman-teman guru dan ada saja kegiatan lucunya salah satunya banyak dari teman-teman yang kebingungan bagaimana melakukan demonstrasi berkaitan dengan bahan dan alat, sehingga penggantinya adalah gambar yang dikaitkan dengan media ajarnya ada pula dengan menampilkan media nyata.

Di akhir pelatihan muncul sebuah pertanyaan bagaimana nasib guru yang telah mengikuti Pelatihan Kurikulum 2013 untuk Guru Prakarya? Harapan dan jawaban ternyata masih sama saja, hanya saja yang melegakan masih ada harapan karena ternyata guru TIK tidak sendiri banyak guru0guru lainnya bernasib sama, kita yang ditugaskan mengikuti pelatihan memiliki hak lebih untuk mengajar Prakarya. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah menikmati sebuah kepercayaan dari pemangku pendidikan dan kita laksanakan sebaik mungkin, semoga kita "mantab" seperti semboyan teman-teman pelatihan. Luar biasa jadi guru prakarya mengingat empat aspek yang diberikan membutuhkan pemikiran, keterampilan dan kehebatan guru berinteraksi, berekspresi untuk menjadi agen pembaruan dunia pendidikan yang lebih baik. 

Rabu, 28 Agustus 2013

MASYARAKAT MENILAI

Masyarakat Menilai Kurikulum 2013

Saat digulirkannya Kurikulum 2013 dalam bentuk draft hingga masuk dalam ajaran baru, tanggapan beragam sangatlah beragam hanya saja tanggapan mayoritas darikalangan pendidik yang tentunya pendidik yang merasa di anak tirikan atau terpinggirkan terutama guru BK (bimbingan konseling), TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), namun tidak juga bagi guru lainnya di tingkat SD, SMP, SMA/SMK pun mengalami hal serupa dan semuanya hanya mampu beropini di draft kurikulum tanpa dapat merubah apa yang ada di kurikulum 2013.

Pandangan masyarakat bisa saja berbeda dan hanya merasa heran tatkala TIK ditiadakan dan menjadi media pembelajaran untuk semua mata pelajaran, hanya heran dan bertanya mengapa pelajaran komputer tidak ada? Padahal zaman sudah zaman kemajuan apa tidak kembali lagi ke zaman batu? Ada juga yang berpendapat TIK tidak perlu karena anak kecil saja sudah bisa komputer. Untuk yang satu ini saya menjadi bertanya-tanya, bisa komputer yang bagaimana? Anak didik saya saja di kelas 7 (tujuh) sampai kelas 9 (sembilan) mempergunakan kmputer saja masih tidak benar. Apalagi diceritakan salah satu teman di sekolah RSBI (sebelum dibubarkan) siswa di sekolah tersebut tidak pernah diajari TIK, tapi anehnya mereka bukan "bisa" komputer, malah masih "ngerepoti" orang tua untuk mengajari komputer. Kondisi tersebut di kota, lalu bagaimana dengan kota pingiran atau pun desa di pelosok?

Ada kalanya pemikiran di hapuskannya TIK dimungkinkan karena pertama, meringankan pemerintah dalam pembayaran guru yang sudah tersertifikasi karena orangnya sedikit maka untuk mengendalikan kekisruhan sangatlah sedikit resikonya. Kedua, ada rasa putus asa pemerintah untuk memenuhi kebutuhan melengkapi perangkat komputer untuk pembelajaran, padahal dana BOS saja tidak memperbolehkan digunakan untuk membeli komputer untuk pembelajaran siswa. Jadi jalan satu-satunya untuk mengurangi rasa tanggung jawab pemerintah adalah menghapus pelajaran TIK baik di tingkat SD sampai dengan SMA/SMK.

Semuanya hanyalah reka-reka dari penulis opini ini, selayaknya masyarakat juga harus tahu dan memiliki kepekaan akan bergantinya sebuah kurikulum. Kurikulum dibuat, dirubah hanyalah sebagai upaya memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Namun setiap perubahan kurikulum yang sering terjadi ternyata tidak membawa pengaruh pendidikan, ini yang dirasakan oleh seorang guru. Harus diakui bergantinya kurikulum selalu menjadi masalah baru bagi kinerja seorang guru. Kebijakan-kebijakan pemerintah berkaitan dengan perubahan kurikulum cenderung menjadikan masalah baru, karena apa? Kurikulum masih belum mencerminkan dan menghargai budaya Indonesia, banyak kurikulum asli bangsa ini yang sesungguhnya bisa dilaksanakan dan mungkin sama dengan kurikulum luar hanyaberganti dan beda nama saja. Dan pada intinya masih sekedar bongkar pasang saja, dan tidak menghasilkan apa-apa. (by: Ahmad Amin Udin, S.Pd, S.ST)

Senin, 26 Agustus 2013

SIAP KURIKULUM 2013?

Beban Pemikiran di K13
oleh: Ahmad Amin Udin, S.Pd, S.ST

Ini hanyalah opini yang setiap orang bisa berbeda presepsi, bagi guru yang tidak terlalu di rugikan pada Kurikulum 2013 barangkali tidak terlalu terpengaruh oleh opini yang berkembang di masyarakat pendidikan. Tapi saya yakin dan sepakat jika Kurikulum 2013 ini begitu memiliki pengaruh sangat besar bagi seorang guru, bukan karena kualitas kurikulumnya karena kalau membicarakan kualitasnya saya sendiri masih meragukan, alasanya belum bicara tentang kualitas kurikulum ini banyak menuai protes dari kalangan pendidik, pakar, dan pemerhati dunia pendidikan.

Pertama kali diwacanakan banyak dari kalangan dunia pendidikan meragukan kurikulum ini, ada beberapa alasan pertama, kurikulum terdahulu "Kurikulum KTSP" masih belum terlihat hasilnya karena wujud dari cita-cita membentuk generasi yang berkarakter masih jauh dari harapan. Kedua, kalangan pendidik masih menganggap kurikulum baru banyak mengurangi hak mengajar, dan jam mengajar. Karena kurikulum baru ini lebih banyak mengurangi jam mengajar, meskipun total jam mengajar per minggu bertambah. Khusus mata pelajaran yang tidak ada seperti TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), Bahasa Daerah, IPA dan IPS SD memberikan permasalahan guru pada beban mengajar dan alih profesinya guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik. Ketiga, Standard pendidikan yang diharapkan terlalu tinggi khususnya pada peralatan TI (Teknologi Informasi) kita tahu tidak semua sekolah mampu menyediakannya. Keempat, pengalihan profesi mengajar memunculkan masalah baru bagi sekolah, dengan harus menyediakan Sumber Daya Manusia yang memadai.

Pengalaman dari teman yang mengikuti pelatihan instruktur Kurikulum 2013 tingkat SMP ternyata menyisahkan masalah bagi guru TIK. Untuk guru TIK diharuskan mengajar sesuai bidang study masing-masing mengingat banyak guru TIK bukan berasal dari guru TIK. Patut di sayangkan ketika TIK di hapus di mata pelajaran tingkat SD sampai SMA/SMK padahal banyak guru TIK yang melakukan penyesuaian dengan melakkan sekolah lagi agar mata pelajarannya linier. Untuk mengganti mata pelajaran TIK dari teman yang mengikuti pelatihan Kurikulum 2013 diinformasikan guru TIK mengajar Prakarya yang terdiri dari Pertanian dan Peternakan, saat ini pengembangan silabusnya masih dikembangkan namun apa yang didapat dari hasil lokakarya pelatihan Kurikulum 2013 ternyata menyisahkan beban bagi guru TIK untuk belajar lagi ilmu pertanian dan peternakan. Ini adalah masalah serius yang tidak bisa secara instan bisa diatasi. Sampai saat ini pun materinya, silabusnya, persiapan buku teksnya nyaris tak terdengar padahal tahun ajaran baru bagi sekolah yang menjalankan Kurikulum 2013 sudah berjalan.

Ternyata, K13 menyisahkan masalah yang bagi pemerintah tidak dapat diselesaikan dengan tuntas. Pakar Kurikulum masih melihat standard pendidikan dikota tanpa memperhatikan luasnya negara, letak geografis, kemampuan SDM, aneka ragam budaya dan kearifan lokal. Opini ini hanyalah ungkapan diri pribadi, silakan memberi komentar. Semoga pendidikan kita lebih maju.

Kamis, 28 Februari 2013

GURU TIK DAN KURIKULUM 2013

Menunggu Sebuah Kebijakan
Ataukah Kebajikan dari Pak Menteri?

LAB. TIK SMP Negeri 2 Banyuwangi
Tulisan ini hanyalah sebuah ungkapan hati tentang akan diberlakukannya Kurikulum 2013 nanti, baru kali ini saya merasakan begitu berat menerima sebuah pembaruan dari pada Kurikulum, masalahnya bukan apa. Rasa itu adalah berubahnya sebuah kurikulum yang menghapus TIK sebagai mata pelajaran yang tidak berdiri sendiri. Seluruh guru TIK untuk saat ini saya yakin memiliki rasa prasangka ang sama dengan yang saya miliki.

Dengan dihapuskannya TIK, dikatakan oleh menteri bukan berarti meniadakan TIK tetapi menjadikan TIK terintegrasi ke semua mata pelajaran dan diharapkan TIK menjadi media belajar bagi guru. Saya rasa jelas sekali yang dikatakan oleh pak menteri kalau pelajaran TIK dihapus, yang tentunya meninggalkan masalah besar seperti akan dimanakan guru TIK? Dalam sosialisasi Kurikulum 2013 di Gresik, telah terungkap pak menteri mengatakan karena guru TIK banyak yang bukan dari TIK murni maka dihimbau untuk guru TIK kembali mengajar sesuai bidangnya. Pernyataan ini sebetulnya menyepelekan masalah saja, karena banyak dari teman guru TIK termasuk saya yang saat ini sudah melakukan penyesuaian ijazah bahkan saya tempuh tiga tahun.

Tentang bagaimana Kurikulum 2013 sendiri memandang TIK nantinya juga masih tidak ada kejelasan, pasalnya dari kementrian juga sama sekali tidak memberikan arahan, petunjuk yang dapat mendinginkan suasana hati teman -teman guru TIK. Saya rasa apa yang kita berikan pada siswa masih jauh dari harapan, berbagai usaha untuk menjadikan siswa melek TIK juga sangat keras kita usahakan. Katakanlah guru TIK harus menyesuaikan perangkat komputer mulai dari type ATX ke pentium sampai saat ini komputer type i... sungguh pengabdian yang tidak ternilai dan tidak ada nilainya di hadapan pak menteri.