Kamis, 08 Desember 2011

MUSIBAH DATANG BUKAN KARENA BULAN SURO

Ingatlah bahwa setiap kesialan atau musibah yang menimpa, sebenarnya bukanlah disebabkan oleh waktu, orang atau tempat tertentu! Namun, semua itu adalah ketentuan Allah Ta’ala Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.


Satu hal yang patut direnungkan. Seharusnya seorang muslim apabila mendapatkan musibah atau kesialan, hendaknya dia mengambil ibroh bahwa ini semua adalah ketentuan dan takdir Allah serta berasal dari-Nya. Allah tidaklah mendatangkan musibah, kesialan atau bencana begitu saja, pasti ada sebabnya. Di antara sebabnya adalah karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Inilah yang harus kita ingat, wahai saudaraku. Perhatikanlah firman Allah’Azza wa Jalla (yang artinya), ”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syuraa [42] : 30)


Syaikh Sholih bin Fauzan hafizhohullah mengatakan, ”Jadi, hendaklah seorang mukmin bersegera untuk bertaubat atas dosa-dosanya dan bersabar dengan musibah yang menimpanya serta mengharap ganjaran dari Allah Ta’ala. Janganlah lisannya digunakan untuk mencela waktu dan hari, tempat terjadinya musibah tersebut. Seharusnya seseorang memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta ridho dengan ketentuan dan takdir-Nya. Juga hendaklah dia mengetahui bahwa semua yang terjadi disebabkan karena dosa yang telah dia lakukan. Maka seharusnya seseorang mengintrospeksi diri dan bertaubat kepada Allah Ta’ala.” (Lihat I’anatul Mustafid dan Syarh Masa’il Jahiliyyah)


Jadi, waktu dan bulan tidaklah mendatangkan kesialan dan musibah sama sekali. Namun yang harus kita ketahui bahwa setiap musibah atau kesialan yang menimpa kita sudah menjadi ketetapan Allah dan itu juga karena dosa yang kita perbuat. Maka kewajiban kita hanyalah bertawakkal ketika melakukan suatu perkara dan perbanyaklah taubat serta istighfar pada Allah ’Azza wa Jalla.

Sabtu, 29 Oktober 2011

SEBUAH PERTANYAAN DARI SANG IMAM GHAZALI

Suatu hari, Imam al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam beliau bertanya bebeapa hal. Pertama, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?. ”

Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam al-Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “Mati”. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (QS. Ali Imran 185)

Lalu Imam al-Ghazali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”.

Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar, ujarnya, adalah “MASA LALU.”

Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam al-Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?”.

Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “Nafsu” (QS. Al- a’araf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?”.

Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” (QS. Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”.

Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam al-Ghazali. Namun menurut beliau yang paling ringan di dunia ini adalah ‘meninggalkan SHALAT’. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan shalat, gara-gara meeting kita juga tinggalkan shalat.

Lantas pertanyaan keenam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”.

Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar kata Imam al-Ghazali. Tapi yang paling tajam adalah “lidah MANUSIA”. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Rabu, 13 Juli 2011

KIAT KEIMANAN HIDUP

MENJAGA DAN MENINGKATKAN KEIMANAN
KEPADA ALLAH SWT
Menurut: DR. Fathi Yakan

1. Melakukan 12 rakaat Sholat Sunnah Rawatib

Faedahnya : Alloh SWT akan membangunkan sebuah rumah di sorga bagi orang-orang yang senatiasa melakukannya. Seperti sabda Rasululloh.”Siapa yang sholat setiap hari 12 rokaat, maka Alloh akan membangunkan sebuah rumah untuknya di sorga”( HR.Muslim)

2. Melakukan Sholat 2 rakaat waktu malam

Faedahnya : Doa dikabulkan, Dosa diampuni dan kebutuhannya dipenuhi.

Rasululloh SAW bersabda : “ Rabb Kami Tabaroka wa Ta’ala setiap malam turun ke langit bumi di sepertiga malam terakhir. Dia berfirman “ Siapa yang berdoa maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta akan Aku beri, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni” (HR Bukhari)

3. Melakukan sholat Dhuha 2,4 atau 8 rakaat.

Faedahnya : Setara dengan sedekah yang harus kita penuhi untuk setiap persendian kedalam setiap hari.

Rasululloh SAW Bersabda, “Disaat pagi setiap persendian seseorang diantara kalian membutuhkan sedekah. Maka setiap tasbih, tahmid, tahlil, takbir menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran adalah sedekah. Dan itu dapat disetarai dengan 2 rakaat yang dilakukan diwaktu dhuha.” ( HR. Muslim)

4. Membaca Surat Al-Mulk

Manfaatnya : Menyelamatkan dari azab kubur.

Rasululloh SAW bersabda :” sesungguhnya ada sebuah surat dalam Al_Quran yang terdiri 30 ayat, akan member syafaat pada seorang yang membacanya hingga ia diampuni.(Hadist Hasan, Riwayat Tirmidzi dan Ahmad )

5. Membaca Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahua alaa kulli syai’in qadiir,” 100 kali setiap hari

Manfaatnya : setara dengan membebaskan 10 budak, dicatat sebagai 100 kebaikan, menghapus dosa(kecil) dan sebagai benteng dari syetan. ( HR. Muslim)

6. Membaca Sholawat atas Nabi SAW.

Manfaatnya : Dijauhkan dari sifat kikir.

Rasululloh SAW bersabda,” siapa yang nersholawat atasku satu sholawat maka Alloh akan bersholawat untuknya 10 kali dengannya. (HR MUSLIM)

7. Selalu beristighfar karena istighfar dapat menghilangkan kesulitan dan meluaskan rejeki. Rasulullah bersabda, “ siapa yang selalu beristighfar maka Alloh akan memberi jalan dari setiap kesulitan dan kegundahannya dan member rejeki dari arah yang tidak disangka sangka( HR, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al Haakim )

Selasa, 10 Mei 2011

RAHASIA KEKAYAAN HATI

CARILAH HARTA UNTUK AKHIRATMU

Kita tidak boleh iri, kata Rasulullah,
sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari,
kecuali kepada dua kelompok manusia.
Salah satunya adalah orang kaya yang dengan
kekayaannya itu ia banyak membantu sesamanya.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa yang paling penting di dalam hidup ini bukanlah menjadi kaya, tetapi bagaimana membangun orientasi akhirat atas harta yang kita dapatkan. Bagaimana caranya

1. Membangun Pribadi Qana’ah

Qana’ah adalah rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat yang tidak puas yang berlebihan. Orang qana’ah selalu giat bekerja dan berusaha, bila hasilnya tidak sesuai, ia tetap rela menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Menjadi Pribadi Zuhud

Menurut Al-hasan Al-Bashri, zuhud itu bukan mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta. Namun zuhud di dunia adalah, “Engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah dari pada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu sama dalam kebenarannya.

M 3. Menjadi Insan Bersyukur

Orang yang tidak merasa pernah cukup terhadap nikmat yang sudah diberikan, selamanya akan miskin. Adapun orang yang ridha dan bersyukur maka dialah orang kaya yang sesungguhnya.

4 4. Menjadi Pribadi Yang Senang Memberi

Imam Al-Qayyim berkata, “Sesungguhnya sedekah (memberi) memiliki khasiat yang menakjubkan dalam menangkal bahaya sekalipun orang yang bersedekah adalah orang yang berbuat dosa, zalim, atau bahkan kafir. Maka dari itu dengan sedekah, sungguh Allah Ta’ala menahan bagi penderma berbagai macam bahaya. Hal ini sudah diketahui berbagai macam penduduk bumi. Mereka telah memahami kebaikan yang luar biasa dari sedekah, karena mereka telah mencobanya,” ( Buku Rahasia di balik sedekah oleh Imam Fathi Abdul Muqtadar)

Sabtu, 30 April 2011

SEBUAH RENUNGAN


TEMPAT BAGI ILMU

Ilmu adalah sesuatu yang mulia. Artinya, ia juga memerlukan tempat yang mulia, yakni hati para pencari ilmu yang senantiasa bersih. Jika tidak, adanya ilmu tidak malah membawa kepada keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena ia tidak memberikan manfaat kepada penuntutnya. Nah berikut ini adalah beberapa sifat yang harus dimiliki oleh pencari ilmu, hingga diri mereka menjadi “rumah” ideal bagi ilmu itu sendiri.

AKHLAK MULIA
Murid yang baik adalah mereka yang senantiasa membersihkan hati dari akhlak yang tidak baik, seperti dengki, sombong, marah, atau merasa ta’jub terhadap dirinya.

MENGUTAMAKAN ILMU DIBANDING LAINNYA
Pencari ilmu hendaknya lebih menyibukkan diri kepada ilmu dibanding aktivitas-aktivitas dunia lainnya. Hal ini sesuai dengan sebuah ungkapan para salaf, “Ilmu tidak akan memberikan sebagian darinya kepadamu, sebelum engkau memberikan semuanya kepadanya.”

TIDAK SOMBONG TERHADAP ILMU DAN GURU
Para murid wajib menghormati guru mereka, sebagaimana tercermin dari apa yang dilakukan Ibnu Abbas kepada Zaid bin Tsabit. Ibnu Abbas rela mempersilahkan Zaid menaiki tunggangannya, walau beliau harus turun, dengan mengatakan, “Demikianlah perbuatan yang diperintahkan kepada kita terhadap ulama.” (At Thabarani, dishahikan oleh Al. Hakim)
Sikap sombong terhadap ilmu dan guru bias menghalangi murid mendapatkan ilmu. Sebab karena ia merasa cukup dengan apa yang ia peroleh dan gengsi jika mengambil pengetahuan dari guru dan ilmu yang ia anggap rendah.

SABAR MENJALANI TINGKATAN-TINGKATAN KEILMUAN
Ilmu amatlah luas dank arena kelemahan manusia dan keterbatasan umur, kita tidak mampu menguasai banyak ilmu dalam waktu yang singkat, sehingga pencari ilmu hendaknya bersabar dalam melalui tingkatan-tingkatan dalam penguasaan ilmu.
MENGETAHUI ILMU YANG DIPRIORITASKAN
Dalam dunia pendidikan, ada banyak disiplin ilmu yang harus dipelajari. Hal ini menuntut kepada pencari ilmu untuk mengetahui mana ilmu yang harus dipelajari terlebih dahulu, disbanding ilmu yang lainnya.

ORIENTASINYA BENAR
Bagi pencari ilmu, niat baik sebelum mencari ilmu adalah hal yang perlu diutamakan. Hendaklah mereka mencari ilmu dalam rangka untuk wasilah mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk tujuan meraih materi, dan kedudukan di mata manusia atau untuk kekuasaan.
Sumber: edisi khusus suara hidayatullah 2011

Senin, 07 Februari 2011

AGAR HIDUP SEMAKIN BERKAH

Jika hidup kita barokah, maka hilanglah semua masalah. Hidup terasa sangat mudah dan menyenangkan. Tapi bagaimana caranya? Berikut nasehat Rasulullah SAW.


Bisa jadi saat ini kita berada di puncak kesuksesan, harta melimpah ternyata menyebabkan seperti tiada artinya, hidup selalu gelisah dan semakin jauh dengan Allah. Itulah indikasi bahwasanya hidup kita tidak barokah. Bagaimana kita mengembalikan keberkahan hidup? Berikut nasehat para ulama:

•TETAP BERSYUKUR
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 147 “ Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Alloh adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui!
Ayat diatas adalah jaminan bagi kita, bahwa Dia tidak akan menurunkan bencana dan musibah selama kita senatiasa bersyukur terhadap nikmat yang telah dianugerahkan-Nya.
Karenanya marilah kita tingkatkan syukur kepada Alloh atas Nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya.

•JAUHI DOSA
Jika musibah dan kesulitan hidup dating maka yang harus kita lihat adalah dosa apa yang pernah kita lakukan? Sebab ada kolerasi yang kuat antara dosa dan barokah.Menjauhi dosa adalah harga mati untuk menyambut datangnya kembali barokah Alloh.

•DOA DAN USAHA

Tugas kita manusia adalah berusaha dan tawakal. Dalam segala aspek apapun dikehidupan ini sukses dan tidaknya kerja keras kita adalah Alloh yang menentukan. Tawakal bukan berarti seseorang pasrah tanpa mau berusaha. Tapi, pasarah ( kepada Alloh )setelah usaha.

•SABAR

Bila setelah berusaha dan berdoa barokah tidak kunjung melimpah kita tidak boleh berkecil hati. Bila kita orang yang peka dan sensitive imanya, teguran Alloh ini sudah lebih dari cukup untuk menyadarkan kita. Rasul SAW bersabda : “ Tak satupun yang menimpa seorang mukmin, baik berupa kepayahan, sakit, sedih, susah, atau perasaan murung, bahkan duri yang mengenai dirinya, kecuali Alloh akan melebur kesalahan-kesalahannya lantaran kesusahan-kesusahan tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Salah satu kunci keberkahan hidup adalah menjauhi maksiat dan kemunkaran. Untuk itu mari kita memohon kepada Alloh dengan doa “Allohuma inii as-aluka fi’lal khaairaati wa tarkal munkaraati wa hubbal masaakiini wa an taghfiralii wa tarhamnii wa idza aradta an taquuma fitnatun wa tawafani ilaika wa ana ghairu maftuunin”
Artinya: ”Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar senantiasa mengherjakan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin dan hendaklah Engkau mengampuni dosaku serta menyayangi aku. Sekiranya Engkau menurunkan bencana, maka matikanlah aku kemb ali kepada-Mu, sedangkan aku tidak terkena bencana itu” (HR. Hakim)

Sabtu, 04 September 2010

Pendidikan dan Tradisi Membaca Umat Islam


Suatu hari ada seorang alumni Al Khoirot bertanya pada saya, mungkinkah Islam mencapai masa keemasan (Islamic Golden Age) seperti dulu? Yang dimaksud dengan masa keemasan Islam adalah masa antara pertengahan abad ke-8 sampai ke-14 masehi atau abad ke-2 sampai ke-8 hijriah.

Era keemasan Islam adalah periode aktivitas keilmuan yang tak tertandingi di segala bidang: sains, teknologi, dan literatur, khususnya biografi, sejarah, dan linguistic. Sebagai contoh, para sarjana dan intelektual, dalam mengumpulkan dan menguji hadits Nabi, telah mengoleksi sejumlah besar informasi terkait dengan pribadi Nabi dan informasi lain seputar sejaah dan bahasa pada masa Nabi. Dari riset luar biasa itu maka muncullah karya-karya monumental seperti Sirah Rasulillah, ”Kehidupan Nabi,” oleh Ibnu Ishaq, yang kemudian direvisi oleh Ibnu Hisham. Buku ini adalah salah satu karya sejarah Arab, Islam dan kehidupan Nabi paling awal yang menjadi rujukan utama karya-karya setelahnya.
Pada masa inilah para seniman, insinyur, sarjana, filsuf, geografer dan pengusaha memainkan peran penting di bidang pertanian, seni, ekonomi, industri, hukum, sastra, navigasi, filsafat, sains, sosiologi, teknologi, baik dengan cara memelihara tradisi-tradisi lama maupun dengan menambahkan inovasi dan penemuan-penemuan mereka sendiri.
Islam Saat Ini
Kejayaan Islam di segala bidang itu menjadi kenangan masa lalu. Umat Islam dalam abad-abad terakhir berada dalam posisi yang tidak beruntung. Mereka menjadi mayoritas di negara-negara berkembang yang menjadi negara-negara jajahan bangsa-bangsa Eropa dan baru merdeka sebagai negara berdaulat pada 1940-an ke atas.
Kenyataan bahwa negara-negara Islam baru merdeka beberapa dekade ini sangat berdampak buruk pada banyak hal, dua yang terpenting dan relevan dengan tulisan ini adalah:
Pertama, kemiskinan. Hampir semua negara yang baru bebas dari penjajahan, baik negara mayoritas Islam atau Kristen, mendapat predikat sebagai negara berkembang (developing), terbelakang (under-developed) atau negara ketiga (third world). Artinya, negara miskin. Kemiskinan suatu negara berdampak pada kemiskinan rakyatnya.
Kedua, pendidikan. Negara dan bangsa yang miskin memiliki prioritas yang berbeda dibanding negara maju (developed). Pendidikan yang setinggi-tingginya bukanlah prioritas orang tua di negara miskin. Bagaimana mungkin pendidikan menjadi prioritas, kalau hal yang paling fundamental dalam hidup, yaitu sandang, pangan dan papan masih belum atau sulit terpenuhi?
Rendahnya dan tidak meratanya pendidikan berdampak pada banyak hal-hal negatif lain seperti minimnya minat dan kebiasaan membaca, lemahnya wawasan, tidak adanya spirit penelitian, kurangnya kedewasaan berfikir dan toleransi antar kelompok, lemahnya disiplin, meningkatnya pengangguran, dan lain-lain.


Level Pendidikan dan Kesejahteraan
Seperti disinggung di muka, kondisi kaya-miskin berpengaruh erat pada pendidikan dan level pendidikan yang dicapai. Sekedar ilustrasi, di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), 85 persen penduduknya sudah menyelesaikan SLTA dan 27 persen tamat sarjana S1 atau lebih. Bandingkan dengan Indonesia di mana menurut data tahun 2007 terdapat 20,63 persen lulusan SLTA dan hanya 6,58 persen lulusan perguruan tinggi. Data untuk Indonesia sebenarnya mewakili realitas yang ada di negara-negara berkembang lain yang penduduknya beragama Islam.
Seperti diketahui, tinggi-rendahnya level pendidikan terkait erat dengan tinggi-rendahnya penghasilan walaupun hal ini bukan satu-satunya parameter. Dari sini terjadilah apa yang disebut dengan lingkaran setan (vicious cycle): pendidikan rendah karena orang tua miskin, tercipta orang miskin baru, anak dari orang miskin yang baru tingkat pendidikannya rendah juga, dan seterusnya.
Meningkatkan Taraf Pendidikan Kaum Dhuafa
Untuk menyetop lingkaran setan kemiskinan dan meningkatkan level pendidikan kaum miskin di negara berkembang, maka diperlukan usaha pihak ketiga. Pihak ketiga ini dapat berupa negara atau pemerintah, perusahaan-perusahaan besar, lembaga pendidikan dan para hartawan yang peduli dengan sesamanya.
Pemerintah dalam hal ini sudah melakukan perannya walaupun belum maksimal seperti diluncurkannya dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) pada 2005 bersamaan dengan wajib belajar 9 tahun. Artinya, dari SD sampai SMP didanai pemerintah. Dan sejak 1978 meningkatnya anggaran pendidikan menjadi 20 persen (yang asalnya 10 persen) dari dana APBN. Adalah sangat ideal kalau program wajib belajar tidak hanya 9 tahun, tapi 16 tahun atau sampai sarjana S1.
Perusahaan-peruhaan besar saat ini juga memainkan perannya dengan memberikan beasiswa pada kalangan pelajar dan mahasiswa yang kurang mampu dengan program yang dikenal dengan CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan. Lembaga-lembaga pendidikan juga memiliki program beasiswa bagi siswa tidak mampu agar mereka tetap memiliki harapan, peluang dan masa depan yang sama .
Tradisi memberikan beasiswa atau membiayai sekolah anak miskin tampaknya belum terbiasa dilakukan kalangan individu hartawan di Indonesia. Kelompok hartawan kelas menengah ke bawah cukup banyak di Indonesia. Kalau seandainya setiap individu dari kelompok ini berkemauan untuk membiayai satu anak miskin saja sampai tingkat S1, tentu ini berdampak luar biasa bagi yang anak yang dibantu dan bagi masa depan bangsa ini dalam jangka panjang.
Tradisi Membaca
Apabila pendidikan meningkat, maka tradisi membaca juga meningkat. Sebuah penelitian yang diadakan oleh Naitonal Center for Education Statistics (CES), Amerika, menyatakan bahwa kebiasaan membaca itu identik dengan pancapaian pendidikan: semakin tinggi level pendidikan seseorang, semakin senang ia membaca koran, majalah, buku setiap hari.
Memang, ciri khas dari negara dan bangsa maju adalah tradisi membaca rakyat yang tinggi. Gemar membaca, hobi membeli dan mengoleksi buku adalah suatu fenomena yang mudah dilihat di negara-negara maju. Tradisi membaca bisa dilihat dari kalangan turis bule yang datang ke Indonesia di mana mereka umumnya menggunakan waktu luangnya dengan membaca, baik saat berada dalam bus, kereta api, atau sedang antri.
Menurut CES, 57 persen warga Amerika dengan taraf pendidikan SLTA dan S1 membaca buku setiap hari. Tradisi membaca buku yang tinggi di AS dan negara-negara maju yang lain seperti Inggris, Jepang, persis dengan yang terjadi pada zaman keemasan Islam.
Tradisi membaca buku di Indonesia bisa dilihat dari data jumlah buku yang diterbitkan setiap tahunnya yang ternyata paling rendah di Asia yaitu hanya sekitar 8.000 judul buku per tahun. Bandingkan dengan Malaysia yang menerbitkan 15.000 judul/tahun, Vietnam 45.000 judul/tahun, sedangkan Inggris menerbitkan 100.000 judul/tahun.
Minimnya tradisi membaca di Indonesia bisa juga dilihat dari seberapa banyak kalangan terdidik, seperti para guru dan dosen, yang berlangganan koran, majalah dan memiliki koleksi buku. Begitu juga, kalangan hartawan di perkotaan, apalagi di pedesaan, lebih suka mengoleksi barang-barang antik mahal dan barang pecah belah di lemari ruang tamunya daripada memamerkan buku. Buku belum menjadi koleksi kebanggaan di Indonesia termasuk di kalangan yang cukup terdidik.
Padahal banyaknya informasi yang dibaca akan berdampak positif langsung pada sikap toleransi dan kearifan setiap individu pada kelompok lain yang tidak sepaham. Banyak konflik terjadi karena minimnya informasi dan keilmuan dari masih-masing pihak sehingga cuma mengandalkan informasi dari patron (tokoh yang dihormati).
Kesimpulan
Dari ulasan singkat ini dapat disimpulkan bahwa kebangkitan Islam dapat dicapai dengan meningkatnya kualitas pendidikan setiap individu muslim. Semakin tinggi dan merata level pendidikan, semakin terbuka pintu menuju era kebangkitan Islam. Kebangkitan Islam yang berkelanjutan tidak dapat dicapai dengan senjata, perilaku intoleransi dan kebanggaan kelompok (eksklusivisme) yang sempit. Sikap intoleransi membuat umat Islam mudah dipecahbelah provokator selama ratusan tahun. Umat yang ingin maju harus belajar dari kesalahan sejarahnya sendiri. Bukan mengulanginya berkali-kali. (oleh : A. Fatih SyuhudDitulis untuk Buletin Alkhoirot Edisi Agustus 2010
Pondok Pesantren AlKhoirot Malang, Jatim)


Selasa, 17 Agustus 2010

65 TAHUN INDONESIA MERDEKA

REFLEKSI ANAK BANGSA



Dicatat dari sejarah bangsa yang merdeka 65 tahun lalu, di bulan suci Ramadhan 65 tahun yang lalu bangsa ini bergeliat membebaskan diri dari belenggu. Perjuangan dan do’a anak bangsa generasi masa lalu telah tergapai dan terwujud dalam pekik takbir perjuangan “Arek-arek Surabaya 10 Nopember 1945” oleh Bung Tomo di “Radio Pemberontak” Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Merdeka atau Mati”. Membela Negara untuk Merdeka dengan darah dan air mata seantero Nusantara, mati sahid dalam ladang jihad untuk merdeka telah tertanam dalam jiwa kesatria yang berbalut “Merah Putih”.

Kini 65 tahun kita merdeka, harapan dari sebuah kenangan masih belum terwujud, kita masih butuh jihad (perjuangan) mengisi kemerdekaan dengan membangun mentalitas bangsa yang beragam budaya dengan Pancasila yang religious, jujur, berkeadilan social. Sebagai anak bangsa kita bangga menjadi Indonesia. Banyak anak bangsa yang kini berjihad untuk Negara dengan tanpa pamrih di lading-ladang jihad bidang ekonomi, bidang politik, bidang pemerintahan, bidang social, bidang teknologi, bidang olah raga, bidang ilmu pengetahuan yang kesemuanya berkobar dalam jiwa “Merah Putih” dengan pekik takbir kemerdekaan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar” kobarkan semangat jihad (perjuangan) anak bangsa, berjuang tanpa pamrih tegakkan supermasi hokum, supermasi politik, supermasi kejujuran pemegang kendali bangsa, luluhlantakkan Korupsi, Kolusi, Nepotisme bangsa.
Jangan jadikan bangsa ini hanya sebuah bangsa yang bisanya menghargai jihad (perjuangan) dengan symbol belaka “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan” padahal pahlawan tidak pernah minta “dihargai”, seandainya mereka dapat melihat kita yang merdeka, pahlawan kita menangis, menangis meneteskan air mata yang tiada habisnya.