Jumat, 08 April 2016

SANDERA ABU SAYYAF



RI Memantau 10 WNI 
Melalui Satelit
     
     Abu Sayyaf adalah salah satu kelompok separatis paling berbahaya. Diketahui beberapa anggotanya pernah belajar atau bekerja di Arab Saudi dan mengembangkan hubungan dengan mujahidin ketika bertempur dan berlatih di Afganistan dan Pakistan, yang kini disebut kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Saat ini kelompok tersebut tengah menyandera Warga Negara Indonesia (WNI) yang berjumlah tujuh orang, dari awal berjumlah 10 orang.
      Kesepuluh sandera itu adalah Peter B Tonson (kapten), Julian Philip, Mahmud, Suriansyah, Surianto, Wawan Saputra, Bayu Oktavianto, Reynaldi, Alvian Elvis Peti, serta Wendi Raknadian. Mereka sudah disandera setidaknya dua hari sebelum 26 Maret. Kelompok itu meminta tebusan 50 juta peso atau setara Rp 15 miliar. Dalam upaya pembebasan WNI, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Mrasudi melakukan upaya perbincangan dengan negoisasi dengan negara Filipina. Bahkan dalam opsi ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyarankan agar terjalin dialog, agar seluruh WNI pulang dengan selamat.
"Opsi dialog tetap dilakukan, untuk menyelamatkan yang disandera," kata Jokowi usai menonton babak pertama final Bhayangkara di Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (3/4).
      Di tengah menjalin dialog dengan kelompok Abu Sayyaf, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan, bahwa lokasi penyanderaan telah dikepung oleh pasukan militer Filipina. Namun Ryamizard mengatakan bahwa saat ini Indonesia dilarang untuk masuk ke lokasi tersebut. "Operasi militer di tangan Filipina, kami tidak boleh masuk. Iya lokasinya sudah dikepung oleh militer Filipina," singkat Ryamizard usai rapat di Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (4/4). Apa bila nantinya dialog berjalan buntu dan bangsa Indonesia tetap diminta uang tebusan, Ryamizard menegaskan bahwa Indonesia tidak akan mengeluarkan uang sama sekali. Namun, dirinya tetap mendepankan dialog dapat terjadi dengan baik.
      "Kelompok Abu Sayyaf itu bukan satu, dia bertebaran. Kelompok, kelompok dan kelompok. Kemudian kelompok yang di sana, kelompok yang kering, yang kurang makan, itu masalah perut lah kira-kira begitu," pokoknya yang jelas bukan uang negara, negara ini tidak mengeluarkan uang. Tidak mau" ujar Ryamizard di Kantor Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, Kamis (7/4).
Ryamizard beralasan tidak ingin mengeluarkan uang tebusan karena Indonesia tidak mau dianggap sebagai bangsa yang lemah lantaran diperas kelompok Abu Sayyaf. Tetapi saat ini pemerintah lebih memilih membebaskan 10 WNI yang disandera tersebut melalui jalur militer. Kata Ryamizard, pemerintah Filipina sudah menyiapkan pasukannya tiga batalyon untuk membantu membebaskan WNI yang tersisa. Bahkan Indonesia pun telah siap apa bila Filipina meminta bantuan. "Bukan siap lagi, lebih dari siap. Tapi kan, ada aturan kalau mau masuk wilayah itu (Filipina)," pungkasnya.
   Presiden Joko Widodo telah memantau perkembangan terakhir keberadaan 10 warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Sudah diketahui di mana 10 WNI disandera. "Kita sudah tahu dari pantauan satelit atau orang-orang kita ada di mana, kita sudah tahu secara detail. Kita ada peralatan itu dan tahu mereka di mana tetapi kita menghormati pemerintah Filipina dan harapannya segera dibebaskan," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (8/4).
      Diterangkan Pramono, Presiden melalui Menteri Luar Negeri terus berkoordinasi dengan pemerintah Filipina. Kendati terus berkoordinasi, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri sudah siap jika suatu waktu Filipina meminta bantuan untuk membebaskan 10 WNI. "Kita masih menghormati konstitusi yang dimiliki Filipina tetapi TNI dan Polri sudah siap. Apalagi kemarin Polri maupun Panglima TNI sudah melaporkan," lanjutnya.
      Pramono belum bisa memastikan apakah tenggat waktu penebusan duit yang diminta Kelompok Abu Sayyaf jatuh pada hari ini atau masih terus berlanjut. Hal ini dikarenakan kelompok Abu Sayyaf tidak mengatakan secara langsung batasan waktunya.
"Sebenarnya informasi itu berkembang awal tapi kenyataannya masih berlangsung proses diplomasi baik dengan pemerintah Filipina dan mereka ada di depan untuk membebaskan warga negara kita," tandasnya.

sumber: merdeka.com

Kamis, 07 April 2016

RENCANA PANGKALAN KAPAL SELAM NATUNA



TNI Angkatan Laut Berencana Bangun 
Pangkalan Kapal Selam Di Natuna

TNI AL: KRI Nagabanda
     Angkatan Laut Indonesia berencana untuk membangun pangkalan kapal selam ketiga di Pulau Natuna Besar, pulau terbesar di gugusan Kepulauan Natuna di Laut Cina Selatan. Dipilihnya lokasi di Natuna berhubungan dengan semakin meningkatnya ketegangan di perairan tersebut.Pemilihan lokasi itu terungkap dalam transkrip pertemuan antara Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo dan Dewan Perwakilan Rakyat dari Komisi 1 bidang Pertahanan, Intelijen, dan Hubungan Luar Negeri yang berlangsung pada Februari 2016.

     Menurut transkrip, Pulau Natuna Besar dipilih karena kedekatannya dengan Laut Cina Selatan, daerah yang mendapat perhatian serius dari TNI-AL baru-baru ini dengan semakin agresifnya klaim Beijing terhadap perairan yang disinyalir kaya sumber minyak dan perikanan itu. Untuk mendanai pembangunan pangkalan kapal selam yang diusulkan, TNI-AL telah meminta kucuran anggaran sebesar 533 milyar Rupiah (US$ 40 juta) dari Komisi I dan Kementerian Pertahanan Indonesia. Sebagian dana yang diminta juga akan dialokasikan untuk upgrade dermaga TNI-AL di Sabang Mawang, yang terletak di pulau yang sama, sehingga dapat menampung penyebaran kapal perang yang lebih besar seperti fregat Perusak Kawal Rudal (PKR) SIGMA 10514.
     TNI-AL saat ini mengoperasikan dua kapal selam diesel elektrik Cakra class buatan Jerman yang berbasis di Surabaya. Angkatan Laut mengharapkan pengiriman tiga kapal selam Chang Bogo Type 209/1400 dari Korea Selatan yang akan ditempatkan di Palu, Sulawesi Tengah, di mana pangkalan kapal selam kedua saat ini sedang dibangun.
Pembangunan pangkalan kapal selam ketiga di Pulau Natuna kemungkinan sedang diusulkan dalam persiapan untuk menampung kapal selam tambahan.
Sumber: www.militerhankam.com


Rabu, 06 April 2016

PEMBAJAKAN KAPAL

Usaha Pembebasan 10 Sandera
Abu Sayyaf Filipina

      Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pasukan militer Filipina telah mengepung kelompok Abu Sayyaf. Luhut berharap, pengepungan tersebut dapat berimbas positif terhadap bebasnya 10 warga negara Indonesia yang disandera oleh kelompok tersebut. "Tiga batalion diturunkan (militer Filipina). Namun, itu urusan merekalah karena konstitusi dia bilang tidak boleh tentara asing masuk," ujar Luhut di kantornya, Selasa (5/4/2016).
     Pemerintah Indonesia, lanjut Luhut, juga akan mengirimkan dua perwira Pasukan Komando Khusus (Kopassus) untuk asistensi pergerakan militer Filipina. "Peran mereka memberikan asistensi karena kan yang disandera orang Indonesia. Banyak itu pasukan khusus kita yang profesional," ujar dia.
Peristiwa itu diawali saat kapal Tund Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 tengah membawa 7.000 ton batubara dari Sungai Puting di Kalimantan Selatan menuju Batangas kawasan Filipina Selatan. Kedua kapal itu diawaki 10 warga negara Indonesia. Karena membawa ribuan ton batubara, kecepatan mereka hanya 4 knot. Tiba-tiba, kapal itu dicegat dari sebelah kanan oleh orang tak dikenal bersenjata. Mereka pun dibawa ke Filipina.
     Kelompok Abu Sayyaf meminta tebusan 50 juta peso atau sekitar Rp14,3 miliar. Kelompok itu beberapa kali menculik warga asing dan meminta tebusan, tetapi ini adalah kejadian pertama untuk WNI.
Berikut nama-nama WNI yang disandera:
1. Peter Tonsen Barahama asal Kelurahan Bukit Tempayan, Kecamatan Batu Aji, Batam.
2. Julian Philip, warga Kelurahan Sasaran, Kecamatan Tondang Utara, Kabupaten Minahasa.
3. Alvian Elvis Peti dari Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
4. Mahmud, warga Kelurahan Telaga Biru, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
5. Surian Syah asal Kelurahan Watubangga, Kecamatan Baruga, Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara.
6. Surianto, Gilireng, Wajo, Sulawesi Selatan.
7. Wawan Saputra, Kelurahan Puncak Indah, Kecamatan Malili, Kota Palopo.
8. Bayu Oktavianto, Kelurahan Miliran Mendak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
9. Rinaldi, Makassar, Sulawesi Selatan.
10. Wendi Raknadian asal Kelurahan Pasar Ambacang, Padang, Sumatera Barat.
Belakangan, perusahaan pemilik kapal dikabarkan akan memenuhi uang tebusan 50 juta peso atau sekitar Rp 14,3 miliar kepada kelompok Abu Sayyaf.

sumber: kompas.com

Sabtu, 26 Maret 2016

KAPAL SELAM INDONESIA 2016



 Selamat Datang Chang Bogo Class
TNI AL 2016

Kapal Selam TNI AL Chang Bogo Class
     Kapal selam pertama dari 3 unit kapal yang dipesan Indonesia dari Korea Selatan (Korsel) mulai beroperasi untuk mengamankan kawasan teritorial Indonesia. Kapal Selam dengan kode Hull Number H.7712 tersebut meluncur ke lautan di Demaga Okpo, Korea Selatan, Kamis (24/3).
Pengoperasian perdana kapal selam buatan Korsel ini disaksikan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu bersama Dubes RI John A Prasetio,  dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi.
Menurut Koordinator Fungsi Konsuler KBRI Seoul, Aji Surya, proses pembangunan kapal selam ini telah dimulai sejak 2013 di galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Okpo, Korea Selatan. Semua prosesnya, jelas dia, dibawah kendali pengawasan Satuan Tugas Proyek Pengadaan Kapal Selam (Satgas Yekda KDSE DSME209) yang dipimpin oleh Kolonel Laut (P) Iwan Isnurwanto, M.A.P., M.Tr (Han).
     "Sesuai dengan kontrak yang ada, pembangunan kapal selam pertama dan kedua dilaksanakan di galangan kapal DSME," kata Aji dalam pernyataan tertulis kepada Republika.co.id, Kamis (24/3). Sedangkan untuk pembangunan kapal selam ketiga akan dilaksanakan di galangan kapal PT PAL Indonesia dengan proses Transfer of Technology (ToT).
     Guna meraih kesuksesan dalam pembangunan kapal selam ketiga, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang perkapalan ini telah mengirimkan sejumlah 113 Insinyur ke DSME, Korea Selatan untuk terlibat dalam proses ToT dan pembelajaran pembangunan dan pengembangan kapal selam secara mandiri melalui tahap On the Job Training (OJT).
    Kapal Selam Diesel Elektrik DSME209 yang merupakan produksi export pertama kali pemerintah Korea Selatan tersebut merupakan pengembangan dari kapal selam tipe Chang Bogo Class milik Republic of Korean Navy (ROK Navy) dan Kapal Selam tipe Cakra klas yang dimiliki oleh TNI Angkatan Laut.
Menurut Atase Pertahanan KBRI Seoul, Kolonel Laut (T) Aditya Kumara, kapal selam ini mempunyai panjang 61,3 meter dengan  kecepatan ± 21 knot dibawah air, dan dengan ketahanan berlayar  lebih dari 50 hari. Secara umum kapal selam DSME209 ini memiliki beberapa kelebihan dari sisi teknologinya, seperti State of The Art technology yang meliputi Latest Combat System, Enhanced Operating System, Non-hull Penetrating Mast and Comfortable Accomodation.
     Selain dipersenjatai torpedo berukuran 533mm dengan fasilitas 8 (delapan) buah tabung peluncurnya, kapal selam ini juga dirancang untuk mampu men-deploy ranjau laut, meluncurkan rudal anti kapal permukaan, serta mampu melepaskan Torpedo Counter Measure (TCM).

Sabtu, 12 Maret 2016

BANYUWANGI FESTIVAL 2016

B-Fest 2016 Konsisten
Angkat Budaya Lokal Banyuwangi

Jadwal Banyuwangi Festival 2016
     Ajang wisata sejuta pesona Banyuwangi Festival kembali digelar. Tahun ini, kalender wisata tahunan yang sudah digelar sejak 2012 itu menampilkan berbagai potensi Banyuwangi, mulai kekayaan seni dan budaya, event olahraga dan pariwisata, sampai kearifan lokal melalui sebuah festival yang unik dan kreatif.Puluhan event akan dihelat sepanjang 2016. Agenda tahunan berskala besar seperti International Tour de Banyuwangi Ijen (11-14 Mei), Banyuwangi Batik Festival (9 Oktober), Jazz Pantai (27 Agustus), Festival Gandrung Sewu (17 September), dan Banyuwangi Ethno Carnival (12 November), akan dilengkapi sejumlah event baru yang lebih semarak.
   Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Banyuwangi Festival digelar untuk mempromosikan pariwisata sekaligus memaksimalkan potensi daerah. ”Kami angkat belasan tradisi lokal. Selain untuk menjaga keberlanjutannya, ini adalah ikhtiar untuk mengenalkan kebudayaan lokal kepada publik global. Kami ingin memberikan apa yang disebut dengan ”Banyuwangi Experience”, yang tak akan bisa dijumpai di daerah lain,” kata Anas.
     Tahun ini, terdapat 53 event di Banyuwangi Festival. Penyelenggaranya pun makin lengkap karena ada event yang dihelat langsung oleh dunia usaha, dan pemerintah pusat. ”Bertambahnya jadwal ini karena kami memasukkan tradisi dan budaya yang sudah mengakar. Kami berdiskusi dengan Dewan Kesenian Blambangan, sepakat memasukkan tradisi masyarakat yang tahun-tahun lalu belum dimasukkan ke agenda Banyuwangi Festival. Seperti tradisi arung kanal di kawasan Bangorejo, Puter Kayun di kawasan Boyolangu, dan Gredoan. Bahkan kita gelar Festival Lagu Using. Semua tak lain hanya untuk mengenalkan budaya Banyuwangi ke khalayak luas,” ujar Anas. Using adalah suku masyarakat asli Banyuwangi. 
    Sejumlah tradisi asli Banyuwangi yang akan difestivalkan tahun ini antara lain Barong Ider Bumi, Tari Seblang, Tumpeng Sewu, Kebo-keboan, hingga tradisi lomba tahunan perahu layar.  ”Kami juga menggelar Festival Padi dan Banyuwangi Fish Market Festival untuk menguatkan dan mempromosikan produk pertanian serta perikanan. Misalnya, bakal ditampilkan beras organik dan beras merah organik. Juga ada Agro Expo yang kami gelar saat durian merah ramai dipanen April nanti,” ujar Anas.
     Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko menambahkan, tahun ini juga digelar banyak event musik. Mulai dari jazz hingga musik khas Banyuwangi dalam Festival Lagu Using. Akan ada pula Ijen Summer Jazz yang digelar tiga kali dalam setahun. Acara ini sepenuhnya dihelat Java Banana, dunia usaha yang bergerak di bidang resor. ”Mulai muncul inisiatif dunia usaha untuk ikut berpartisipasi mempromosikan daerah. Ini tren dan iklim yang bagus,” kata Yusuf. Bahkan, lanjut Yusuf, Banyuwangi juga akan menjadi tuan rumah Swarna Fest, event fashion yang digagas Kementrian Perindustrian yang mengkampanyekan penggunan warna alam pada bahan tekstil dan kerajian tangan. "Mereka akan menggelarnya beriringan dengan pelaksanaan Banyuwangi Batik Festival," jelas Yusuf.  
     Dari sisi sport tourism, ada International Tour de Banyuwangi Ijen, Festival Arung Jeram, Kite and Wind Surfing Competition, International Run, dan Banyuwangi International BMX. Selain itu, juga akan ada kembali Festival Toilet Bersih, Festival Sedekah Oksigen, dan Festival Sungai Bersih. ”Tak lupa ada Festival Kuliner. Tahun ini mengangkat sego cawuk setelah tahun sebelumnya ada rujak soto dan nasi tempong. Kuliner kami angkat agar makin dikenal dan depot-depot laris dikunjungi saat wisatawan datang ke Banyuwangi,” kata Yusuf. sumber: humas

Selasa, 19 Januari 2016

PENDIDIK DAN NEGARA

Ujung Tombak Membangun dan
Mengawal Bela Negara

     Sebagai pendidik amatlah bangga dan senang tatkala seorang alumni masih ingat dan hadir di sekolahnya saat duduk di sekolah menengah, saat ini sang siswa menjadi staf ahli kepresidenan yang menaungi masalah pertahanan dan keamanan. Saat ini masalah keamanan sangatlah penting artinya apalagi saat terjadi perestiwa adu tembak pada Kamis, 14 Januari 2016 pukul 10.45 WIB secara kebetulan saat kejadian itu sang alumni berada di sekitar tempat kejadian di Jl. MH. Thamrin Jakarta Pusat.
     Memang tidak dapat dipungkiri masalah keamanan negara saat ini menjadi isu yang patut diapresiasi terlebih dengan sebuah program besar Menhankam Ryamrizard Ryacudu yang telah mewacanakan Pendidikan Bela Negara, dalam pandangan beliau pada salah satu media online dikatakan, bela negara diatur dalam pasal 27 ayat 3 UUD 1945. "Warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara". Saat ini memang anggapan membela negara hanyalah tugas TNI sebagai ujung tombaknya, padahal kisah perjuangan kemerdekaan tidak jauh dari peran rakyat karena memang lahirnya TNI dari rakyat dan untuk rakyat.
     Dalam perkembangan wacana bela negara memunculkan banyak isu dan pendapat yang beragam dari kalangan ahli dan masyarakat, sebagai masyarakat yang berkecimpung dalam dunia pendidikan ketika bela negara ini diluncurkan seakan-akan gesekan yang paling kuat adalah pada peran serta sang pendidik, jauh sebelum ramai bela negara banyak program dari negara untuk anak bangsa, misalnya pendidikan berkarakter.
     Pendidikan Berkarakter, merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan berkarakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus menerus dan melatih kemampuan diri menuju ke arah yang lebih baik. Adakah pendidikan karakter yang dimaksud tidak menyertakan bela negara? Potensi bela negara di sekolah amatlah banyak untuk dikembangkan bela negara dapat saja terangkum, tersampaikan dan dilatihkan ke siswa dalam sebuah sub mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Pendidikan Agama, Ilmu Pengetahuan Sosial tergantung bagaimana sekolah atau pun kurikulum dapat memilah dan menyampaikan pesan bela negara yang dimaksud.
     Contoh dalam kehidupanbernegara di dalam PKn, saat sekolah dulu kita diharuskan hafal dari Pancasila, UUD 1945 beserta pasal-pasalnya termasuk pembantu presiden hingga DPR/MPR nya, Pendidikan Agama kita dapat belajar makna dari sebuah perjuangan Rasulullah hingga sahabat-sahabatnya perjuangan dalam Islam berarti jihad tentu jauh dari makna terorisme. Ilmu Pengetahuan Sosial mengangkat makna perjuangan negara melawan penjajah hingga kekuatan diplomasi negara di dalam mau pun di luar negara. Selain itu potensi pendidikan telah melakukan kegiatan belan negara dalam kegiatan Upacara tiap hari senin, hari besar nasional, dan kegiatan ekstra.
     Tinggallah bagaimana penentu kebijakan di negara ini memberikan arah yang pas untuk kegiatan bela negara dan tidak hanya menambah materi dalam kurikulum. Menurut Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Kementerian Pertahanan Mayjend. TNI Harfind Asrin sangat menolak anggapan bahwa bela negara sama dengan wajib militer, kurikulum tidak menyentuh materi militer yang ada materi baris berbaris dengan intinya ialah lima nilai dasar bela negara yakni cinta tanah air, rela berkorban, sadar berbangsa dan bernegara, meyakini Pancasila sebagai ideologi negara, serta memiliki kemampuan awal dalam bela negara baik fisik mau pun non fisik.

Rabu, 30 Desember 2015

CALISTUNG

Membenahi Pro Kontra Calistung Dengan Bijak

OH ... CALISTUNG
     Heboh-heboh lagi masalah calistung, seakan tiada pernah henti-hentinya kebijakan tentang larangan calistung di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD). Kembali ke masa saya sekolh dulu ketika itu sekolah yang saat ini di sebut PAUD masih berupa Taman Kanak-Kanak (TK) dimana kelasnya masih hanya nol kecil dan nol besar sangat berbeda dengan saat ini ada Play Group, Kelas A, dan B. Sewaktu saya di TK masih ingat porsi bermain, menyanyi dan bergerak masih mendapatkan porsi besar daripada belajar membaca dan menulis (CALISTUNG).
     Banyak perdebatan di kalangan pakar pendidikan yang tidak hanya terjadi di dalam negeri termyata di luar negeri pun, calistung masih banyak diperdebatkan. Saya tidak akan membahas perdebatan pakar tersebut, biarlah masalah calistung menjadi ladang penelitian dengan harapan menjadi bahan referensi pendidik atau pun pemerintah selanjutnya.
     Indonesia adalah salah satu negara yang memberlakukan (walaupun ada larangan) anak usia dini harus dapat membaca pada saat masuk di sekolah tingkat dasar. Kebijakan yang subur sejak lama ini ternyata sulit sekali di kembalikan seperti saat saya di bangku TK sekitar akhir tahun tujuhpuluhan ketika itu. Karena sudah menjadi tradisi anak masuk sekolah dasar harus dapat membaca, menulis dan berhitung.
     Sangat di sayangkan larangan dari pemerintah untuk tidak mengajarkan calistung pada anak usia dini ternyata hanyalah menghasilkan peraturan tertulis yang mandul, kenapa? Tidak ada yang salah dari peraturan yang harus dilaksanakan ini, namun apa yang telah terjadi sekian lama memerlukan perombakan total tidak hanya pada peraturan namun juga persepsi orang tua, dan guru yang harus dirubah. Pemberlakuan ini sangatlah setengah hati untuk dijalankan di sekolah tingkat dasar, ada beberapa alasan, mengapa calistung tetap menjadi bahan tes bagi siswa yang akan masuk ke sekolah dasar. Alasannya adalah, pertama sekolah yang banyak peminatnya tentunya susah untuk dapat menyeleksi sehingga salah satu cara yang dianggap gampang adalah dengan calistung. Kedua, sudah menjadi kebutuhan akan orang tua untuk menyekolahkan anak ke sekolah yang mampu membuat anak dapat membaca dan menulis, sekolah PAUD yang tidak mampu tentunya siap menjadi PAUD yang tidak dilirik oleh orang tua. Ketiga, paling penting dari itu semua adalah terjaminnya jalannya peraturan yang dapat dikawal oleh semua pihak tidak terkecuali pemerintah, guru dan orang tua. Keempat, peraturan setidaknya tidak hanya berlaku sebatas pada aturan dan dijalankan setidaknya ada satu komponen yang tidak pernah disentuh yaitu kurikulum.
     Mengingat kurikulum sebagai dasar motor pendidikan, sangatlah penting mengkoreksi lagi kurikulum tingkat dasar. Sadarkah ketika anak kita masuk di sekolah sekolah dasar, kita akan merasa terkejut ketika ditingkat pertama anak kita sudah harus mengikuti ujian semester. Betapa mirisnya kita jika pemerintah keras dengan aturan melarang CALISTUNG tetapi kegiatan di tingkat kelas pertama sudah ada ujian semester yang tentunya menuntut untuk sang anak dapat membaca, menulis dan menghitung.
     Mari kita koreksi buku siswa kelas satu, apa yang anda lihat sama rasanya dengan apa yang saya pikirkan, buku kelas satu sama sekali tidak mencerminkan konsumsi untuk anak yang masih belum dapat menguasai CALISTUNG. Apakah anda yang diperkotaan, atau pun mungkin di desa pernah merasa/melihat guru SD kelas satu mengajarkan siswa untuk bisa ber-CALISTUNG? Jika kegiatan belajar kelas satu tidak dapat dirubah atau pun sistem pengajaran materi dan buku materinya tidak berubah juga niscaya aturan larangan CALISTUNG di PAUD akan tetap jalan di tempat dan jangan lupa meskipun peraturan dari Mendiknas hasilnya tetap akan sama saja.

Rabu, 27 Mei 2015

WELCOME TO BANYUWANGI

Banyuwangi Kota Festival 2015

Tari Gandrung Banyuwangi
     Sudah jamak jika orang Banyuwangi atau bahkan yang bukan orang Banyuwangi mengatakan "Banyuwangi kota Festival" perkataan ini mengingatkan saya pada salah satu adik kelas saat kuliah di IKIP Malang sekarang Universitas Negeri Malang yang kini menjadi salah satu anggota DPRD Kota Tulungagung. Memang diakui Banyuwangi kini menjelma kota festival bisa dibayangkan salah satu kota yang dalam satu tahun berisi bermacam-macam kegiatan hanyalah Banyuwangi yang ada di Indonesia atau bahkan di seluruh duia baru Kota Banyuwangi saja ... hebat...!
     Saat ini saja ada tiga kegiatan sekaligus yang pelaksanaannya tingkat propinsi dimana pada bulan sebelumnya ada kegiatan Internasional berupa Tour de Banyuwangi Ijen, even tingkat Propinsi Jawa Timur ini meliputi kegiatan Musyabaqah Tilawatil Quran tingkat Propinsi Jawa Timur yang diadakan pada tanggal 23 - 30 Mei 2015, selanjutnya tanggal 31 Mei - 4 Juni kegiatan Pekan Seni Pelajar se Jawa Timur dan even tingkat propinsi yang terakhir adalah Pekan Olah Raga Provinsi Jawa Timur V tanggal 6 - 13 Juni 2015.
     Kegiatan tingkat Internasional dan tingkat propinsi masih belumlah cukup karena masih banyak lagi kegiatan lokal di tahun 2015. Tentunya dari agenda kegiatan besar selama satu tahun ini memiliki arti sendiri dalam dunia usaha, pariwisata, pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang terus menggeliat istilah Banyuwanginya "Jenggirat Tangi". Kegiatan-kegiatan tingkat Internasional, Nasional dan Provinsi memberikan iklim usaha perhotelan yang luar biasa karena hampir 90% hunian hotel dari kelas penginapan biasa sampai hotel berbintang ludes, laris manis.
     Berkah lainnya adalah dikenalnya hasil bumi, kuliner, budaya lokal masyarakat Banyuwangi. Omset penjualan kuliner, kerajinan, batik gajah oling mengalami trend penjualan yang naik di hari-hari  biasanya, belum lagi semakin dikenalnya obyek wisata Banyuwangi yang sangat banyak. Ambil saja Kawah Gunung Ijen dengan Blue Fire nya yang membuat banyak orang penasaran, dan juga Pulau Merah dan Plengkunng sebagai jujukan para peselancar dunia untuk melakukan kegiatan tingkat Internasional.
     Inilah salah satu keuntungan dari Banyuwangi kota Festival. Semoga trend ini menjadi agenda rutin dan semakin baik saja gaung kegiatan ini dengan dilibatkannya masyarakat dari semua unsur secara langsung mau pun tidak langsung. "Banyuwangi jenggirat tangi", merupakan yel-yel masyarakat Osing Banyuwangi yang juga sering di bawa-bawa oleh Danang peserta DAcademy2 di Indosiar. Ya....beginilah masyarakat Osing selalu ada dimana-mana.